Kecerdasan buatan atau AI perlahan berhenti dipandang sebagai teknologi yang hanya dipakai saat dibutuhkan. Arah perkembangannya kini berubah: AI dirancang hadir secara natural di latar belakang aktivitas manusia.
Orang tidak lagi sekadar mencari perangkat yang canggih, tetapi teknologi yang lebih responsif, konsisten, dan tidak mengganggu alur keseharian.
Cara pandang ini yang mendorong pendekatan Samsung Electronics dalam mengembangkan teknologi berbasis AI. Alih-alih menonjolkan kompleksitasnya, AI diposisikan sebagai pendamping. Fungsinya bukan menggantikan manusia, melainkan membantu aktivitas berjalan lebih mulus tanpa perlu banyak perhatian.
Di Indonesia sendiri, tantangannya berbeda. Pola penggunaan teknologi sangat beragam, sehingga inovasi tidak cukup hanya pintar, tapi juga harus relevan. AI perlu memiliki tujuan yang jelas: membuat hidup lebih mudah dan memberi manfaat nyata bagi banyak orang.
Dari Program Edukasi ke Solusi Nyata
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui program Samsung Solve for Tomorrow (SFT). Program ini membuka ruang bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan solusi teknologi dari masalah yang mereka temui di sekitar lingkungan mereka sendiri.
Samsung Solve for Tomorrow tidak hanya berfokus pada kompetisi. Peserta diajak memahami masalah sosial, mengolah ide, lalu memanfaatkan teknologi termasuk AI untuk menciptakan solusi yang benar-benar bisa digunakan. Prosesnya mendorong eksplorasi, kolaborasi, hingga pematangan konsep sampai siap memberi dampak.
Menariknya, banyak ide lahir dari pengalaman sehari-hari, bukan dari teori besar atau eksperimen laboratorium.
Baca Juga: Samsung Resmi Perkenalkan Galaxy Book6 Series di CES 2026
RunSight: Kacamata Pintar Berbasis AI
Salah satu hasilnya datang dari tim mahasiswa Universitas Indonesia bernama Labmino. Mereka mengembangkan RunSight, kacamata pintar berbasis AI yang dirancang membantu pelari dengan keterbatasan penglihatan.
Berolahraga sebenarnya aktivitas universal, tetapi bagi tunanetra risikonya jauh lebih besar. Biasanya mereka membutuhkan pemandu agar bisa berlari dengan aman. RunSight mencoba memberi alternatif melalui panduan suara real-time yang memberi informasi arah dan kondisi sekitar saat pengguna bergerak.
Tujuannya bukan menggantikan pendamping manusia, melainkan menghadirkan rasa aman dan kepercayaan diri agar pengguna bisa bergerak lebih mandiri. Di sini AI berperan bukan sebagai demonstrasi teknologi, melainkan alat pembuka akses.
Inovasi tersebut membawa Tim Labmino melaju melewati seleksi regional hingga global dan masuk ke dalam sepuluh tim terbaik dunia pada SFT Global Ambassador. Pencapaian ini menunjukkan bahwa solusi yang lahir dari kebutuhan lokal bisa memiliki relevansi universal selama problem yang diangkat bersifat manusiawi.
Kisah RunSight juga menegaskan perubahan arah pengembangan teknologi. Fokusnya tidak lagi hanya pada performa atau kecanggihan, tetapi pada dampak yang dihasilkan. AI menjadi penting ketika ia membantu aktivitas sehari-hari, menjangkau kelompok yang sebelumnya terbatas, dan menyelesaikan masalah nyata.