Dalam beberapa hari terakhir, para pengguna WhatsApp di Indonesia sempat dibuat resah oleh beredarnya pesan berantai yang memperingatkan adanya dugaan peretasan lewat fitur voice chat di grup. Pesan itu menyebar luas dan menyebut bahwa jika ada ikon kotak bergaris di pojok kanan atas grup, maka itu tandanya grup tersebut sudah disusupi hacker. Bahkan, disebutkan bahwa menekan tombol “Gabung” pada voice chat bisa menyebabkan pencurian data pribadi hingga isi rekening.
Pesan itu menganjurkan pengguna untuk segera keluar dari grup dan membuat grup baru jika melihat ikon yang dimaksud. Isi narasinya terdengar cukup serius dan menakutkan, membuat banyak pengguna WhatsApp menjadi khawatir dan mempertanyakan keamanan fitur baru ini. Namun sebenarnya, informasi yang tersebar tersebut tidak memiliki dasar teknis dan dinyatakan sebagai hoaks oleh pakar keamanan siber.
Alfons Tanujaya, seorang ahli keamanan dari Vaksincom, menjelaskan bahwa voice chat merupakan fitur resmi yang dirilis WhatsApp sejak November 2023 dan sepenuhnya aman untuk digunakan. Fitur ini diperkenalkan sebagai alternatif komunikasi suara dalam grup, terutama yang memiliki banyak anggota, tanpa harus melakukan panggilan langsung. Alfons menegaskan bahwa tidak ada cara bagi peretas untuk mencuri data pengguna hanya karena mereka menekan tombol “Gabung” dalam sesi voice chat. Voice chat tidak bekerja dengan sistem eksternal yang membuka jalur masuk ke data sensitif seperti informasi perbankan atau identitas pribadi.
Sistem kerja voice chat ini sebenarnya sangat sederhana. Ketika fitur ini diaktifkan, pengguna akan melihat notifikasi dalam ruang obrolan dan bisa memilih untuk ikut serta jika ingin. Tidak ada informasi pribadi yang dibagikan hanya karena kamu masuk ke dalam voice chat. Ini berbeda dari aksi peretasan yang biasanya melibatkan link palsu, permintaan data pribadi, atau pengambilalihan akun.
Meskipun fitur voice chat telah diklarifikasi aman, bukan berarti kamu tidak perlu waspada dalam menggunakan WhatsApp. Ancaman nyata yang lebih sering terjadi adalah penipuan dengan berbagai modus lama, seperti pesan dari nomor yang mengaku sebagai teman atau kerabat, permintaan transfer uang secara mendadak, dan tautan mencurigakan yang dikirim melalui grup. Hal-hal seperti inilah yang lebih berbahaya karena biasanya melibatkan kelengahan pengguna yang tidak sadar sedang dimanipulasi oleh pihak lain.
Alfons juga mengingatkan bahwa sebagian besar penipuan digital terjadi bukan karena adanya fitur yang berbahaya, tapi karena pengguna memberikan akses secara tidak langsung, seperti membagikan kode OTP atau mengklik tautan yang tidak jelas sumbernya. Jadi, penting bagi siapa pun untuk tetap berhati-hati dan bijak dalam menerima informasi yang tersebar di media sosial atau aplikasi perpesanan.
Fitur voice chat yang kini tersedia di WhatsApp adalah bagian dari upaya peningkatan layanan komunikasi dan sama sekali tidak berkaitan dengan aktivitas peretasan. Narasi yang menyebut fitur tersebut sebagai alat hacker untuk mencuri uang atau data hanyalah hoaks belaka. Pengguna disarankan untuk tidak menyebarkan ulang informasi yang belum jelas kebenarannya dan lebih baik mencari klarifikasi dari sumber resmi atau pakar keamanan.
Dengan tetap waspada terhadap penipuan digital dan tidak mudah percaya pada pesan yang menakut-nakuti, kamu bisa menggunakan fitur WhatsApp—termasuk voice chat—dengan aman dan nyaman. Jangan sampai berita yang tidak benar justru membatasi kamu memanfaatkan teknologi yang sebenarnya dirancang untuk mempermudah komunikasi.