Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) identik dengan meningkatnya aktivitas belanja, pemesanan tiket, hingga transaksi digital untuk berbagai kebutuhan liburan. Namun di balik ramainya transaksi tersebut, risiko scam saat Nataru juga ikut melonjak dan kerap menyasar masyarakat yang lengah.
Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat, sepanjang November 2024 hingga November 2025 terdapat lebih dari 373 ribu laporan penipuan di Indonesia, atau rata-rata 874 laporan setiap hari. Total kerugian akibat berbagai modus scam ini mencapai Rp8,2 triliun dalam kurun waktu hampir satu tahun. Ironisnya, dana korban yang berhasil diselamatkan masih sangat kecil, yakni di bawah 5 persen.
Tingginya angka penipuan ini menunjukkan bahwa periode liburan menjadi “waktu panen” bagi pelaku kejahatan digital. Banyaknya transaksi, suasana liburan, hingga menurunnya kewaspadaan membuat masyarakat lebih rentan menjadi korban.
Mengapa Marak Terjadi Penipuan Saat Nataru?
Ada beberapa faktor yang membuat penipuan digital meningkat selama masa liburan. Salah satunya adalah ketergantungan pada sistem keamanan lama seperti OTP berbasis SMS. Berdasarkan data industri, sekitar 80 persen pembobolan akun terjadi akibat lemahnya OTP SMS yang mudah disusupi melalui phishing atau rekayasa sosial.
Selain itu, pada 2025 muncul modus penipuan baru yang jauh lebih canggih, yakni penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI deepfake. Penipuan berbasis AI ini dilaporkan meningkat drastis, dengan pelaku memanfaatkan teknologi voice cloning untuk meniru suara anggota keluarga, atasan, atau pihak berwenang. Suara yang dihasilkan bahkan bisa terdengar hampir identik dengan aslinya, sehingga korban kerap langsung percaya dan mengirimkan uang tanpa verifikasi lebih lanjut.
Dari sisi modus, otoritas mencatat tiga jenis penipuan yang paling banyak menimbulkan kerugian. Penipuan melalui panggilan telepon palsu menjadi salah satu yang terbesar, disusul penipuan belanja online dan investasi bodong. Kerugian dari masing-masing modus ini mencapai triliunan rupiah.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah keterlambatan pelaporan. Di Indonesia, korban penipuan rata-rata baru melapor setelah 12 jam. Jeda waktu yang panjang ini membuat pelacakan dana semakin sulit karena uang sudah berpindah ke banyak rekening lain.
Tips Waspada Scam Selama Libur Nataru
Agar terhindar dari scam selama Nataru, masyarakat disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan langkah-langkah berikut:
- Hindari menggunakan Wi-Fi publik saat melakukan transaksi keuangan atau mengakses layanan perbankan. Jaringan terbuka lebih rentan terhadap penyadapan data.
- Selalu verifikasi permintaan yang bersifat mendesak, terutama jika berkaitan dengan transfer dana. Jika menerima telepon atau pesan mencurigakan, pastikan untuk menghubungi ulang melalui nomor yang sudah tersimpan dan dikenal.
- Waspadai pesan yang menekan secara emosional atau menggunakan alasan darurat, seperti ancaman akun diblokir atau klaim promo terbatas waktu. Lakukan pengecekan melalui kanal resmi.
- Periksa kembali detail transfer sebelum mengirimkan uang, mulai dari nama penerima hingga nominal yang dituju.
- Gunakan metode autentikasi yang lebih aman, seperti biometrik, dan hindari terlalu bergantung pada OTP berbasis SMS yang mudah disalahgunakan.
Peran Keamanan Identitas Digital
Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Badan Siber dan Sandi Negara juga terus mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penipuan digital, khususnya yang menargetkan identitas digital pengguna. Perlindungan identitas kini menjadi salah satu kunci utama untuk menjaga keamanan finansial di era transaksi serba online.
Sebagai penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA turut mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati selama periode liburan. Perusahaan ini menekankan pentingnya beralih ke sistem autentikasi yang lebih kuat dan adaptif terhadap perkembangan modus penipuan, termasuk ancaman berbasis AI.
Dengan meningkatnya kesadaran dan penerapan langkah-langkah keamanan yang tepat, masyarakat diharapkan dapat menikmati libur Natal dan Tahun Baru dengan lebih aman, nyaman, dan bebas dari risiko penipuan digital.