MSI kembali meramaikan pasar laptop gaming kelas menengah atas lewat Crosshair 16 HX AI, sebuah perangkat yang dirancang untuk gamer yang menginginkan performa tinggi tanpa harus masuk ke kelas flagship yang harganya jauh lebih mahal. Laptop ini menggabungkan prosesor Intel Core Ultra 9 275HX dan GPU Nvidia GeForce RTX 5070, sebuah kombinasi yang di atas kertas menawarkan performa cukup besar untuk menangani game modern di resolusi 1440p. Namun seperti produk lain di segmen ini, ada beberapa kompromi yang mesti diterima pengguna.
Dari sisi penggunaan sehari-hari, Crosshair 16 HX AI terasa cukup gesit sejak pertama kali dinyalakan. Windows berjalan lancar, aplikasi terbuka cepat, dan transisi antar program terasa ringan. Ini bukan hanya soal CPU yang kencang, tetapi juga tuning MSI yang membuat performa laptop terasa optimal tanpa delay–delay yang mengganggu. Untuk aktivitas harian, laptop ini jelas bukan perangkat yang pelan.
Masuk ke performa gaming, Crosshair 16 HX AI menunjukkan kemampuannya. Game berbasis grafis berat seperti Cyberpunk 2077, Assassin’s Creed Mirage, hingga Horizon Forbidden West masih dapat dimainkan di setting tinggi dengan frame rate yang relatif stabil di resolusi QHD+. Teknologi DLSS 4 dari Nvidia membantu menjaga performa tetap nyaman, terutama untuk game yang menuntut GPU. Meskipun begitu, VRAM 8 GB milik RTX 5070 Laptop kadang terasa kurang untuk game yang memakai texture pack besar. Tidak membuat game tidak bisa dimainkan, tetapi beberapa judul akan mengharuskan pengguna menurunkan pengaturan tekstur agar game tetap berjalan mulus.
MSI menyediakan beberapa mode performa, dan ketika Extreme Performance diaktifkan, tenaga laptop ini memang keluar maksimal. Namun konsekuensinya adalah suara kipas yang jauh lebih terdengar dan suhu yang cepat naik. Untuk yang bermain di ruangan ber-AC ini mungkin tidak masalah, tetapi laptop menjadi cukup panas di sisi kanan, terutama di area ventilasi yang mengarah keluar. Pengguna mouse kanan mungkin akan merasakannya.
Bagian yang cukup mengesankan justru ada pada layarnya. Crosshair 16 HX AI membawa panel QHD+ dengan refresh rate 240 Hz. Meskipun bukan OLED atau mini-LED, tampilan warnanya kaya, detailnya jelas, dan responsnya cepat–cocok untuk gamer yang ingin memaksimalkan pengalaman bermain FPS atau game kompetitif lainnya. MSI juga tidak memakai PWM, sehingga layar ini tidak cepat membuat mata lelah, terutama ketika digunakan dalam waktu lama.
Untuk desain, MSI tampaknya mengambil pendekatan yang lebih sederhana dibandingkan lini laptop gaming mereka yang lain. Bodinya berbahan plastik, tetapi kokoh dan tidak terasa murahan. Bobotnya masih cukup dapat dibawa, meskipun bukan tergolong ringan. Port yang tersedia sebenarnya cukup lengkap, hanya saja adanya satu port Thunderbolt 4 terasa kurang untuk pengguna yang terbiasa memakai banyak aksesori atau penyimpanan eksternal. Selain itu, kecepatan Wi-Fi 5 yang disematkan terasa agak ketinggalan untuk laptop di harga ini, mengingat banyak pesaing sudah menyertakan Wi-Fi 6 atau bahkan 6E.
Urusan baterai, Crosshair 16 HX AI tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa, tetapi performanya cukup layak untuk laptop gaming. Pemakaian ringan seperti browsing atau mengetik bisa bertahan beberapa jam, sedangkan gaming tetap membutuhkan adaptor.
Di Indonesia, laptop ini hadir dalam dua varian harga yang cukup masuk akal untuk kelasnya. Model dengan Intel Core Ultra 9 275HX dan RTX 5060 dijual sekitar Rp24.999.000, sementara versi yang lebih bertenaga dengan RTX 5070 dibanderol Rp29.999.000. Keduanya sudah tersedia di toko resmi MSI maupun retailer besar.
Dengan performa yang mumpuni di resolusi 1440p, layar cepat 240 Hz, dan build quality yang cukup solid, MSI Crosshair 16 HX AI menjadi salah satu opsi menarik bagi gamer yang ingin laptop kencang tanpa perlu masuk ke kelas premium. Meski begitu, hal-hal seperti VRAM 8 GB, port yang terbatas, dan panas yang keluar ke sisi kanan tetap menjadi poin yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli.